Ketika Persekutuan Menjadi Lebih dari Sekadar Pertemanan
Kebanyakan dari kita membayangkan persekutuan gereja sebagai pengalaman yang hangat dan nyaman — ngopi sesudah ibadah, obrolan ringan di lobi, grup chat yang sesekali ramai oleh permintaan doa. Tetapi bagaimana jika gambaran itu sebenarnya terlalu sempit? Bagaimana jika persekutuan, bila dipahami dengan benar, sama sekali bukan pertemanan — melainkan perjanjian?
Itulah tantangan yang menjadi inti dari pesan penutup dalam seri persekutuan di Lineage Church, dan ini layak direnungkan baik-baik.
Gereja Adalah Persekutuan Itu
Sebelum kita menyelami hakikat persekutuan itu sendiri, kita perlu meletakkan dasar percakapan ini pada satu gagasan pokok: gereja tidak memiliki persekutuan. Gereja adalah persekutuan.
Sama seperti gereja bukanlah gedung yang menampung suatu perhimpunan, melainkan perhimpunan itu sendiri — ekklesia dalam bahasa Yunani — demikian pula gereja adalah koinonia, komunitas persekutuan itu. Anda tidak mungkin menjadi gereja seutuhnya sambil mengisolasi diri dari sesama. Kisah Para Rasul 2:46 melukiskan gambaran ganda tentang kehidupan jemaat mula-mula: mereka berkumpul di pelataran Bait Allah (perhimpunan besar) dan dari rumah ke rumah (komunitas yang akrab). Kedua unsur itu bersama-sama menciptakan kondisi bagi kedewasaan rohani yang sejati. Hilangkan salah satunya, dan yang tersisa hanyalah gambaran yang tidak utuh.
Kelompok kecil, pertemuan komunitas, dan pelayanan relasional yang disengaja bukanlah program tambahan. Semua itu bagian dari DNA hakiki dari apa artinya menjadi gereja.
Perjanjian vs. Pertemanan: Sebuah Perbedaan yang Menentukan
Di sinilah khotbah ini menusuk dalam. Dalam Mikha 6:8, Allah berbicara kepada Israel melalui nabi-Nya dengan bahasa sengketa hukum atas sebuah perjanjian — bukan sebagai sahabat yang kecewa, melainkan sebagai pihak perjanjian yang telah dicederai. Allah tidak sedang berkata, Aku rindu menghabiskan waktu bersamamu. Ia sedang berkata, Kamu telah mengingkari sumpahmu kepada-Ku.
Hubungan antara Allah dan Israel tidak pernah sekadar pertemanan. Itu adalah pernikahan — ikatan perjanjian yang ditentukan bukan oleh kesenangan berada bersama, melainkan oleh komitmen timbal balik yang mengikat.
Perbedaan yang sama berlaku ketika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya dalam Yohanes 13 dan Yohanes 15: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu." Ketika Yesus mengatakan ini, Ia tidak sedang meminta para pengikut-Nya untuk merasa hangat satu sama lain. Ia sedang memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam perjanjian satu dengan yang lain — sebuah komitmen yang bertahan sekalipun perasaan memudar, sekalipun konflik muncul, sekalipun orang itu sulit untuk didampingi.
Petrus menggemakan hal yang sama dalam 1 Petrus 1:22: "Hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu." Kata bersungguh-sungguh itu menyiratkan ketegangan, upaya, dan kesengajaan — bukan kenikmatan tanpa beban dari sebuah pertemanan yang nyaman.
Mengapa Kita Salah Memahami Kasih
Budaya kita hampir sepenuhnya mendefinisikan kasih sebagai pengalaman emosional. Kita jatuh cinta dan kehilangan cinta. Kita berkata, "Aku tidak lagi mencintaimu seperti dulu" — seolah-olah kasih adalah perasaan yang secara alami naik dan turun mengikuti keadaan.
Kesalahpahaman ini telah menghancurkan pernikahan, meretakkan persahabatan, dan mengosongkan gereja-gereja. Ketika kasih direduksi menjadi perasaan, ia kehilangan daya tahan. Tetapi ketika kasih dipahami sebagai perjanjian — sebagai komitmen mengikat yang berkata hanya maut yang dapat memisahkan kita — kasih menjadi sesuatu yang jauh lebih kokoh dan jauh lebih indah.
Inilah jenis kasih yang Yesus teladankan dan perintahkan. Bukan kasih yang berkata, "Aku senang bersamamu," melainkan kasih yang berkata, "Aku akan tetap bersamamu." Janji nikah tradisional menangkapnya dengan tepat: dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Itulah struktur perjanjian dari kasih alkitabiah — dan itu pula struktur yang seharusnya menopang persekutuan Kristen.
Kasih sebagai Penatalayanan atas Penyingkapan
Salah satu gagasan paling mencolok dalam pesan ini adalah konsep bahwa kasih adalah penatalayanan atas penyingkapan. Anda tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi seseorang yang tidak sungguh-sungguh Anda kenal. Dan Anda tidak dapat sungguh-sungguh mengenal seseorang tanpa Allah menyingkapkan orang itu kepada Anda.
Alkitab menunjuk pada tiga penyingkapan besar yang Allah tawarkan kepada kita: siapa Dia, siapa kita di dalam Dia, dan siapa sesama kita. Penyingkapan yang ketiga — tentang orang yang duduk di sebelah Anda — adalah sesuatu yang dipercayakan untuk dibawa bersama oleh tubuh Kristus.
Ilustrasi tur Pixar menghidupkan hal ini dengan sangat kuat. Bayangkan Anda berjalan melewati sebuah ruangan penuh orang, masing-masing dengan sehelai kartu remi tertempel di dahinya — terlihat oleh semua orang kecuali dirinya sendiri. Cara Anda memperlakukan setiap orang membentuk bagaimana mereka mulai memahami nilai diri mereka. Tubuh Kristus dirancang untuk bekerja persis seperti itu. Allah menyebarkan penyingkapan tentang siapa diri Anda ke seluruh komunitas, sehingga ketika Anda hadir — sepenuhnya, dengan hati terbuka, secara konsisten — orang-orang di sekeliling Anda menjadi cermin bagi kebenaran-kebenaran tentang diri Anda yang tidak akan pernah Anda temukan dalam keterasingan.
Inilah sebabnya persekutuan yang dangkal merugikan kita. Ketika kita bertahan di permukaan — sopan, berjaga-jaga, tanpa komitmen — kita kehilangan pembentukan rohani yang hanya bisa diberikan oleh komunitas yang dalam dan berlandaskan perjanjian.
Apa Artinya Ini bagi Cara Kita Bergereja
Implikasi praktisnya jelas: persekutuan yang sejati menuntut kehadiran pada tingkat yang belum pernah kebanyakan dari kita coba. Ia menuntut komitmen kepada sebuah komunitas bukan karena terasa nyaman atau menyenangkan, melainkan karena perjanjian tidak menunggu perasaan menjadi selaras.
Artinya, bergabung dengan kelompok kecil sekalipun orang-orang di dalamnya terasa bukan "tipe" Anda. Artinya, tetap bertahan ketika konflik muncul alih-alih diam-diam menjauh. Artinya, membiarkan orang lain mengenal diri Anda yang sebenarnya — dan memercayai bahwa Allah telah menaruh penyingkapan tentang identitas Anda di dalam hati orang-orang di sekeliling Anda.
Mikha 6:8 memanggil kita untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Perjalanan itu bukan perjalanan seorang diri. Sejak semula itu adalah perjalanan perjanjian — bersama Allah, dan bersama umat-Nya.
Persekutuan yang Untuknya Kita Diciptakan
Pertemanan adalah anugerah. Tetapi perjanjian adalah panggilan. Gereja bukanlah klub sosial tempat orang-orang yang saling cocok berkumpul setiap minggu. Gereja adalah komunitas perjanjian yang diikat menjadi satu oleh kasih Kristus — kasih yang bertahan bukan karena terasa menyenangkan, melainkan karena ia berkomitmen.
Jika selama ini Anda memperlakukan relasi-relasi di gereja seperti pertemanan biasa — gampang dijalin, gampang ditinggalkan — ini adalah undangan untuk melangkah lebih dalam. Untuk hadir. Untuk bertahan. Untuk mengasihi bukan seperti dunia mengasihi, melainkan seperti Kristus mengasihi: dengan segenap diri Anda, untuk jangka panjang, berapa pun harganya.
Itulah persekutuan. Dan gereja bukanlah tempat yang memilikinya — gereja adalah persekutuan itu.