Ketika Tuhan Berjalan Bersama Anda dan Anda Tidak Menyadarinya
Pernahkah Anda merasa harapan Anda hancur berkeping-keping? Seolah segala sesuatu yang Anda percayai tiba-tiba runtuh, dan Anda tidak tahu harus ke mana? Kalau begitu, Anda tidak sendirian — dan kisah jalan ke Emaus mungkin adalah cerita yang paling terasa dekat dengan hidup kita di seluruh Alkitab.
Dalam Lukas 24, dua murid sedang berjalan meninggalkan Yerusalem, meninggalkan gereja, dan meninggalkan segala sesuatu yang telah mereka pertaruhkan dalam hidup mereka. Yesus telah mati. Impian mereka ikut mati bersama-Nya. Dan dalam salah satu momen paling mencengangkan dalam Injil, Yesus sendiri mendekat — dan mereka bahkan tidak mengenali-Nya.
Ketegangan antara mata yang terhalang dan mata yang terbuka ini bukan sekadar catatan sejarah yang menarik. Ini adalah kenyataan yang hidup bagi siapa pun yang pernah melewati kebingungan, kekecewaan, atau dukacita — padahal Tuhan jauh lebih dekat daripada yang mereka sadari.
Persekutuan Hati yang Terbeban
Kedua murid ini — Kleopas dan temannya — bukan hanya sekadar sedih. Mereka sedang melakukan sesuatu yang diam-diam berbahaya: mereka sedang membangun persekutuan di seputar kekecewaan mereka.
Ada perbedaan penting di sini. Ketika Anda bingung, patah semangat, atau berduka, Anda memang sangat membutuhkan komunitas. Tetapi ada bedanya antara membawa rasa sakit Anda ke dalam persekutuan dan membangun persekutuan di seputar rasa sakit Anda. Yang pertama itu sehat. Yang kedua bisa menjebak Anda dalam lingkaran dukacita bersama yang justru memperdalam kebingungan, bukan mendatangkan kejelasan.
Bayangkan begini: jika dua orang jatuh dari tebing bersama-sama, yang mereka butuhkan bukanlah teman yang ikut jatuh sambil berkata, "Aku bersamamu!" — mereka butuh seseorang yang berdiri di tanah yang kokoh dengan membawa tali. Kedua murid ini berjalan meninggalkan Yerusalem bersama-sama, bersatu dalam kebingungan mereka, dan dengan melakukan itu, mereka justru mengunci Yesus di luar percakapan yang justru ingin Ia masuki.
Alkitab mengatakan bahwa mereka ber-homileō — percakapan yang dalam dan menyelidik — dan ber-suzēteō — perdebatan yang serius, kadang memanas — sambil berusaha memahami apa yang telah terjadi. Mereka bersatu dalam kebingungan, tetapi terpecah dalam menafsirkannya. Kedengaran akrab? Itulah persekutuan hati yang terbeban: semua orang berdebat tentang mengapa segalanya menjadi kacau, tetapi tidak ada yang berpaling kepada Pribadi yang memegang jawabannya.
Yesus Mendekat — Bahkan Ketika Kita Menjauh
Inilah yang membuat kisah ini begitu memukau: Yakobus 4:8 berkata, "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." Tetapi dalam Lukas 24, Yesus membalik urutannya sama sekali. Para murid sedang berjalan menjauh dari-Nya, dan Ia yang mendekat kepada mereka.
Ia tidak menyergap mereka. Ia tidak membuat penyingkapan yang dramatis. Ia hanya mendekat dan mengajukan satu pertanyaan: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan — dan mengapa kamu nampak sedih?"
Kata Yunani yang dipakai untuk percakapan mereka — antiballō — sebenarnya berasal dari akar kata untuk balistik. Mereka saling melemparkan sesuatu bolak-balik. Dan di tengah semua gejolak emosi dan pikiran itu, Yesus dengan lembut melangkah masuk. Ia mengenali keadaan hati mereka. Ia memperhatikan kesedihan mereka. Dan Ia mengundang diri-Nya sendiri masuk ke dalam persekutuan mereka — bukan dengan paksaan, melainkan dengan anugerah.
Inilah Yesus. Ia tidak menunggu sampai Anda membereskan diri sebelum Ia datang. Ia menjumpai Anda di jalan, di tengah kekacauan Anda, saat Anda sedang berjalan ke arah yang salah.
Mata yang Terhalang: Misteri Kehadiran yang Tak Dikenali
Ayat 16 memberitahu kita sesuatu yang aneh: "Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia." Kata terhalang secara harfiah berarti ditahan — seolah-olah Allah mengutus malaikat untuk mencegah mata mereka melihat dengan jelas. Dan kata untuk "mengenal" adalah epiginōskō — yang berarti mengenali.
Perbedaan ini sangat penting. Anda bisa memiliki pengetahuan tentang Yesus tanpa mengenali kehadiran-Nya. Anda bisa berkata, "Saya mengenal Tuhan," sementara sama sekali tidak menyadari bahwa Ia sedang berjalan tepat di samping Anda di jalan tersulit dalam hidup Anda.
C.S. Lewis menangkap hal ini dengan indah dalam The Chronicles of Narnia. Aslan — sosok Kristus dalam cerita itu — muncul berulang kali pada saat-saat yang tak terduga, dan berkali-kali para tokohnya tidak menyadari siapa yang sedang berjalan bersama mereka sampai sesuatu meremukkan mereka hingga akhirnya mereka bisa melihat dengan jelas.
Pertanyaan yang diajukan bagian firman ini kepada kita sangatlah pribadi: Apakah Anda mengenali Yesus ketika Ia hadir? Bukan hanya dalam ibadah Minggu atau dalam mukjizat yang nyata terlihat — tetapi di jalan? Dalam hal-hal yang biasa? Di tengah dukacita dan kebingungan Anda?
Apa yang Membuka Mata
Momen penentu terjadi di ayat 31: "Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia." Jadi, apa yang berubah? Apa titik balik antara mata yang terhalang dan mata yang terbuka?
Sementara Yesus berjalan bersama mereka, Ia melakukan sesuatu yang sederhana namun mendalam — Ia membuka Kitab Suci. Ia menuntun mereka menelusuri seluruh Perjanjian Lama, menunjukkan bagaimana segala sesuatu menunjuk kepada Mesias yang harus menderita sebelum masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Hati mereka mulai berkobar-kobar saat Ia berbicara. Dan kemudian, ketika mereka duduk makan bersama dan Ia memecah-mecahkan roti, terbukalah mata mereka.
Terobosan itu datang melalui Firman dan melalui perjamuan — melalui Kitab Suci dan melalui santapan bersama. Itu bukan sambaran petir. Itu adalah pekerjaan yang perlahan dan setia dari seorang Juruselamat yang sabar, yang berjalan bersama mereka cukup lama sampai kebenaran itu sungguh melekat.
Apa Artinya Ini bagi Anda
Jika Anda sedang berada di musim di mana Tuhan terasa jauh, di mana harapan Anda dikecewakan, di mana organisasi atau komunitas yang Anda percayai tampaknya telah runtuh — bagian firman ini untuk Anda.
Pertama, berhati-hatilah dengan siapa Anda berjalan di musim-musim penuh rasa sakit. Anda membutuhkan orang-orang yang akan menyuarakan iman atas hidup Anda, bukan sekadar menggemakan kebingungan Anda. Jangan bangun persekutuan terdekat Anda di seputar kekecewaan bersama. Bawalah rasa sakit Anda ke dalam komunitas iman — jangan biarkan rasa sakit Anda menjadi komunitas itu sendiri.
Kedua, Yesus sudah ada di dekat Anda, bahkan ketika Anda tidak dapat melihat-Nya. Ketidakmampuan Anda mengenali kehadiran-Nya tidak berarti Ia tidak ada. Mungkin itu hanya berarti mata Anda terhalang untuk suatu musim — dan musim itu tidak akan berlangsung selamanya.
Ketiga, jalan menuju mata yang terbuka melewati Firman dan komunitas. Mata para murid terbuka ketika Yesus menjelaskan Kitab Suci dan ketika Ia makan bersama mereka. Jika Anda ingin beranjak dari mata yang terhalang menuju mata yang terbuka, benamkan diri Anda dalam Kitab Suci dan tetaplah terhubung dengan meja perjamuan — dengan komunitas iman, dengan penyembahan, dengan memecahkan roti bersama-sama.
Jalan ke Emaus tidak berakhir dalam keputusasaan, melainkan dalam pengenalan dan sukacita. Demikian juga jalan Anda.
Satu Pemikiran Penutup
Para murid yang hari itu berjalan meninggalkan Yerusalem justru berlari kembali ke sana sebelum malam tiba. Itulah yang terjadi ketika mata Anda terbuka. Jalan yang sama yang membawa kekecewaan Anda bisa membawa Anda kembali kepada komunitas, kepada panggilan, dan kepada Kristus yang hampir saja Anda tinggalkan.
Ia bersama Anda sepanjang waktu itu. Ia bersama Anda sekarang.